Dalam ketidakpastian tentang sikap para tetangga nanti, aku masih merasakan kesejukan yang dipesankan oleh sepatah kata: “Pulang”. Ya, aku dalam perjalanan pulang. Pulang ke rumah, pulang kepada orang tua, dan pulang untuk diri yang harus kucari kembali. Aku sadar, perjalanan pulang ini mungkin tak mudah, namun aku akan meneruskannya sampai tujuan.

Lingkar Tanah Lingkar Air – Ahmad Tohari

Menurutku, kutipan di atas merupakan benang merah dari sebuah novel yang dikarang Ahmad Tohari puluhan tahun silam ini. Novel yang digodok dari ceceran cerita bersambung di Harian Republika 1990 silam. Agaknya karya ini sedikit lebih tua dariku, sehingga kekhilafan dalam membayang ulang reka cerita menjadi suatu keniscayaan. Maaf diminta banyak-banyak.


Ahmad Tohari, seorang novelis, cerpenis juga essais, kupikir memiliki rasa tersendiri dalam menulis cerita. Kerap menjadikan Pedukuhan di desanya sebagai latar setiap cerita. Sangat rinci dalam menggambarkan lingkungan desa, lengkap dengan dunia flora dan fauna serta kearifan setempat, adalah rasa yang kumaksud, selain kegenitannya menggunakan diksi. Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Sebagaimana lazimnya anak dari keluarga santri, pendidikannya dimulai dari langgar dan pesantren di desanya. Konon pendidikan tingginya di tiga jurusan berbeda tak kunjung ia selesaikan.


Singkat kata, ihwal bacaanku beberapa hari lalu, Lingkar Tanah Lingkar Air, yang sangat telat kubaca dibanding kangkawan setempat duduk. Adalah Amid yang dikabakan. Seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Amid tidak tergabung dalam tentara resmi Indonesia yang disebut tentara republik. Amid berjuang di bawah panji Hizbullah. Pengkhianatan yang dirasai membawa Amid menjadi laskar DI/TII yang menentang Pemerintah RI masa itu.

Diceritakan Ahmad Tohari, tahun 1946, Amid berguru silat pada Kiai Ngumar. Melalui gurunya itu ia termakan pesan; berjuang melawan tentara Belanda adalah wajib hukumnya bagi orang Islam. Maka Amid dan Kiram, temannya, pun bergabung membantu tentara republik dengan nama barisan pemuda.

Beda halnya dengan Amid. Kiram digambarkan sebagai tokoh yang tidak terpelajar. Hebatnya, ia tidak pernah puas jika hanya menjadi pembantu tentara. Ia ingin angkat senjata pula. Alasan itu rupanya yang digunakannya membujuk Amid untuk melakukan serangkaian tindakan heroik-menurut cerita-supaya tentara republik memberi perhatian.

Peristiwa politik, menjadi tarikan cerita Ahmad Tohari dalam cerita ini, dimana masalah mulai muncul ketika kawan seperjuangan Amid: Kiram, Jun, Jalal, dan Kang Suyud, mencuriga tentara republik telah disusupi komunis. Mereka, sebagai pejuang panji Hizbullah yang berjuang dalam jalur Islam, merasa tidak sejalan dengan tentara republik kala itu. Mereka mantap menjadi tentara Hizbullah.

Makin menjadi pitam mereka, ketika mereka dijebak dan malah ditembaki ketika ada berita bahwa tentara republik akan merekrut tentara Hizbullah. Amid, yang awalnya merindukan hidup damai, terpaksa bergabung dengan kelompok Darul Islam dan menjalani sisa hidupnya sebagai musuh republik.

Menjalani kehidupan sebagai musuh republik, serta hidup di tengah ketidakpastian nasib, Amid bergerilya di hutan-hutan. Aku salut pada Amid ini, di tengah gerilyanya itu, ia masih saja teringat akan istri dan calon anaknya. Aku dapat merasakan impian Amid yang hidup tenang bersama keluarganya. Aku merasakan benar pesan pulang itu. Dan apabila akhirnya ia harus berjuang pun, ia ingin menjadi bagian dari tentara republik yang membela Indonesia di jalur yang lurus, bukan justru dicap pemberontak seperti itu. Kasihan benar Amid. Kau harus pulang, bukan berpulang.


Membaca cerita Ahmad Tohari yang ini, aku jadi teringat cerita Bekisar Merah. Novel yang mengangkat kisah seorang perempuan-kupikir lugu- yang terjebak dalam pusaran permainan politik elit. Lingkar Tanah Lingkar Air adalah jebakan lain yang disiapkan Ahmad Tohari. Amid, lelaki lugu yang sangat mencintai republik dan keluarga.

Beberapa hari ini aku menggandrungi karya-karya Ahmad Tohari-setelah kuperoleh secara diskon. Beliau sangat piawai mengangkat kisah-kisah bersejarah dari sudut pandang yang tak biasa. Salah satunya mengakat peristiwa DI/TII, yang dipimpin oleh SM Kartosoewirjo sejak tahun 1942 sampai 1962 ini.


Lewat Lingkar Tanah Lingkar Air, Ahmad Tohari memperkenalkan aku pada si pemuda lugu yang sebenarnya punya cita-cita sederhana untuk membantu perjuangan Indonesia yang sangat ia cintai, namun settingan kondisi yang picik telah membawanya ke jalan yang salah dan sulit untuk memutar arah. Dayung telah dikayuh. Lewat Amid pula, aku diperlihatkan situasi masa itu sungguh sangat chaos.

Bagi akal awamku, Lingkar Tanah Lingkar Air, bukanlah cerita yang penuh adegan tembak-tembakan, tapi lebih kepada perang pemikiran, khususnya bagi si Amid. Benang merahnya adalah kembali atau pulang. Kembali pada kerinduan untuk hidup tenang dan damai. Pandai benar Ahmad Tohari menyajikan kisah dengan cara yang sederhana dan lugas.

Novel ini meski bercerita tentang peristiwa beberapa dekade lalu, ditulis di waktu berbeda, dan dibaca pula di waktu yang berbeda. Namun, yakinlah cerita ini tidak pernah ketinggalan zaman. Tabik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

My Stupid Boss 2, Satire yang Mengocok Perut

Kejang perut dan mata berair adalah keluhan yang saya rasakan sekaligus menjadi…

5 Novel yang Menerabas Batas

Membaca dan menulis bisa jadi pekerjaan yang tergolong sia-sia bagi sebagian orang,…